Taman nasional pulau komodo

Menyapa nyata Hewan Purba di Pulau Komodo.

Diawali dengan pengeluaran biaya yang cukup besar untuk tiket pesawat dan juga memulai petualangan unik setelah beberapa saat menginjakkan kaki di Bandara Labuan Bajo membuat perjalanan untuk mengeksplor semakin menantang. Bagaimana tidak?! Landasan Bandara dengan keterbatasan fasilitas terkadang mengharuskan petugas untuk mengusir hewan ternak seperti sapi yang menghalangi landasan ketika beberapa saat roda pesawat akan menempel aspal dan juga kondisi jalan yang kurang baik menuju pelabuhan, serta tidak banyak pilihan kapal yang ingin digunakan untuk mengelilingi Taman Nasional Pulau Komodo membuat perjalanan semakin menarik. Tapi itu cerita lama bagi para traveler yang ingin bertatap muka dengan hewan langka Komodo.

Lain dulu lain sekarang. Labuan bajo dengan wajah baru sudah sangat berbeda. Kini banyak berbagai macam fasilitas seperti hotel berbintang, restoran yang menawarkan berbagai menu dan juga fasilitas yang menunjang aktivitas travel seperti kapal sailing dan peralatan selam. Tidaklah sulit untuk mengeksplor Taman Nasional Komodo yang melegenda walaupun hanya berpetualang sebatang kara.

Mengunjungi Taman Nasional Labuan Bajo adalah salah satu impian bagi para traveler tanah air dan juga mancanegara. Selain untuk melihat hewan langka yang hanya ada di Indonesia ini para traveler juga dapat menikmati suasana pantai di pulau-pulau cantik kawasan Taman Nasional Pulau Komodo. Berikut adalah cerita saya bersama kawan perjalanan yang sudah mengexplore Taman Nasional Pulau Komodo yang sangat menakjubkan.

Saya adalah orang yang beberapa kali mengadakan sekaligus mengajak tour Sailing Komodo dan sampai saat ini masih banyak sekali teman-teman yang bergabung untuk mengexplore kekayaan alam Pulau Komodo. Untuk rute Sailing Komodo yang saya ketahui sampai saat ini dapat dimulai dari 2 rute. Rute pertama adalah sailing menaiki kapal yang pelayarannya dimulai dari Pulau Lombok menuju Labuan Bajo-Flores ataupun sebaliknya dari Labuan Bajo-Flores menuju Pulau Lombok. Dan rute kedua adalah sailing yang pelayarannya langsung dari Labuan Bajo selama beberapa hari dan  akhir pelayarannya kembali lagi ke Labuan Bajo. Tentu dari 2 rute diatas memiliki sedikit perbedaan destinasi masing-masing untuk mengeksplore Taman Nasional Pulau Komodo.

Perjalanan yang menyenangkan adalah bukan tentang dimana kita akan berada, tapi dengan siapa kita akan melihat keindahan alam. Cerita saya bersama kawan perjalanan yang sangat berkesan adalah Sailing Komodo yang dimulai dengan pelayaran dari Pulau Lombok menuju Labuan Bajo selama 4 hari 3 malam hidup diatas kapal dan melintasi berbagai pulau indah di Tanah air dan mengucap syukur yang tak henti.

Sudah menjadi tradisi bagi saya dan teman-teman perjalanan bahwa ketika kami akan mengadakan suatu perjalanan maka kami berusaha untuk sampai pada titik temu sehari lebih awal dari jadwal untuk perjalanan. Saya dan teman-teman sampai di lombok tepat sebelum program sailing berlangsung dan sempat mengunjungi beberapa pantai seperti Tanjung Aan dan Pantai Senggigi untuk mengisi waktu luang serta belanja untuk bekal pelayaran selama 4 hari diatas kapal. Sempat terfikir resiko yang akan kami alami ketika berlayar selama 4 hari, tapi saya dan teman-teman yakin ketika kami meninggikan niat untuk sebuah perjalanan dan mengucapkan doa ketika kaki melangkahkan jejak pertama keluar rumah maka lebih baik semua diserahkan kepada Tuhan YME,  karena siapapun yang selalu takut mengambil resiko untuk berpetualang maka sampai kapanpun tidak akan pernah menyentuh tempat indah yang memiliki berbagai resiko untuk sampai tujuan.

Hari pertama program Sailing Komodo telah tiba dan cuaca pagi hari terlihat sangat mendukung, tampak cukup terang bias cahaya dari jendela hotel tempat kami menginap. Tepat pukul 09.00 kami dijemput oleh driver yang mengantarkan kami menuju dermaga Pelabuhan Bangsal dan sebelum perjalanan dimulai telah disediakan makan siang yang disantap oleh semua peserta diatas kapal dengan view lautan biru yang berlatar Gunung Rinjani yang sangat indah.

Kapal yang kami naiki cukup besar, fasilitas yang ditawarkan adalah kasur matras dilengkapi bantal dan selimut untuk setiap peserta, masker untuk aktifitas snorkeling, 2 toilet bersih yang dapat digunakan oleh peserta, dapur, dan juga ruang terbuka yang ada dibagian atas kapal. Kami menilai kapal yang digunakan adalah kapal yang layak untuk program sailing jarak jauh karena memang terlihat sangat baik dan terawat.

Awal perjalanan program Sailing Komodo yang dimulai dari Lombok menuju Labuan Bajo Flores memang memiliki keunikan tersendiri karena perjalanan jauh melintasi pulau-pulau cantik disekitar Pulau Sumbawa. Hari pertama berlayar dari dermaga Bangsal Lombok melintasi rute utara Pulau Lombok dan kita dapat melihat keindahan Gunung Rinjani dari berbagai sisi hingga dapat menikmati indahnya detik-detik matahari terbenam yang terlihat sangat jelas dari atas laut menuju selat alas, yaitu selat diantara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Setelah tiba malam hari kapal berhenti di Gili Bola untuk istirahat dan makan malampun berlangsung dengan nikmat kebersamaan diatas kapal.

Pagi hari pada hari kedua makanan untuk sarapan pancake pisang telah disiapkan tepat pada waktunya dan beberapa saat kemudian barulah kapal bersandar di Pulau Moyo. Dimulai dengan trekking melintasi aliran sungai kecil menuju laut, di Pulau Moyo kita dapat mengexplore air terjun mini yang cantik untuk berendam dan bagi yang ingin sedikit lebih ekstrim kita dapat melompat dari atas pohon ke kolam alami yang dikelilingi bebatuan. Tentunya destinasi pertama ini menambahkan semangat untuk bergerak lebih jauh lagi dan mengeksplor pulau lain yang memiliki keunikan berbeda.

Setelah eksplor Pulau Moyo perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Satonda yang tentunya memiliki keunikan tersendiri. Sehabis makan siang dipelayaran kapal menuju Pulau Satonda telah sampai pada tempat bersandar dan jangkarpun telah dilemparkan. Pulau Satonda memiliki taman wisata alam laut yang baik, aktifitas snorkeling disekitaran Pulau Satonda akan memanjakan mata kita sehingga ingin berlama-lama menyapa biota laut yang sangat berwarna-warni. Di dalam Pulau seluas 4,8 kilometer persegi tersebut terdapat danau seluas 0,8 kilometer persegi. Semua dasar danaunya berkarang, airnya pun terasa asin. Menariknya, Danau itu mengikuti pola pasang surut air laut di sekitar pulau tersebut. Fenomena danau air laut pasang surut Pulau Satonda dipuji sebagai keajaiban dunia. Disini terdapat warung sederhana yang menyediakan berbagai makanan ringan, dan disini pula terdapat kamar mandi dengan air tawar yang mengalir alami dan rasanyapun sangat segar. Selama program sailing berlangsung ini adalah salah satu kesempatan yang baik untuk membersihkan rasa lengket di badan.

Malam hari menuju hari ketiga adalah pelayaran yang cukup panjang dan kapalpun sedikit bergoyang karena hempasan ombak. Setelah lelahnya aktifitas di Pulau Moyo dan Pulau Satonda maka selanjutnya hal terbaik yang dilakukan adalah istirahat tepat waktu dan bangun lebih cepat daripada biasanya karena ketika kita membuka mata pada hari ketiga maka tanpa disadari kita terbangun dengan posisi kapal sudah memasuki kawasan Taman Nasional Pulau Komodo. Matahari perlahan menampakkan sinarnya dari arah depan kapal dan satu persatu peserta terbangun ditengah keindahan alam yang luar biasa. Tampak pulau dengan savanna luas dari sisi kiri dan kanan kapal, tampak jarang terlihat pohon yang berdiri tegak. Pantai indah berbentuk lengkungan teluk membuat air laut pagi hari cukup tenang dan nyaman untuk menyantap sarapan pagi. Sungguh suasana pagi yang sangat luar biasa pada perjalanan kali ini.

Melintasi dua teluk dari sisi kanan dan kiri lalu kapal bersandar di salah satu pulau indah tersebut yang bernama Gili Laba. Kegiatan pagi untuk trekking puncak Gili Laba adalah suatu destinasi yang ditunggu-tunggu oleh para peserta trip Sailing Komodo. Gili Laba terkenal dengan keindahan alam yang dapat membuat seseorang merinding ketika sampai dipuncaknya. Dari puncak Gili Laba, mata Anda akan dimanjakan oleh keeksotisan warna biru tua dan turqoise dari area laut dan laut dangkal serta pasir putih yang membentang di area pantai. Gili Laba yang terletak di bagian utara Pulau Komodo ini hukumnya wajib Anda masukkan ke daftar tempat yang dikunjungi ketika Anda datang ke Nusa Tenggara Timur. Jika Anda datang saat bulan Agustus sampai November, hamparan rumput hijau yang ada pada bukit Gili Laba akan mengering dan berubah warna menjadi cokelat kekuningan sehingga foto yang dihasilkan akan sedikit berbeda jika mengunjungi Gili Laba pada bulan Desember sampai Juli. Perlu di ingat untuk semua kegiatan trekking pada program Sailing Komodo agar selalu membawa air mineral dan sedikit makanan ringan agar tubuh selalu terjaga dari dehidrasi.

Kelelahan ditengah savanna untuk menuruni bukit Gili Laba semakin terasa karena matahari seolah semakin terang menyinari Bumi, namun rasa lelah terbayar ketika melihat foto yang dihasilkan dari Gili Laba. Tanpa disadari rasa lelahpun hilang ketika kapal tiba-tiba bersandar disalah satu pulau. Sepasang mata tak berhenti memandang seakan terkesima melihat pantai yang sangat bersih dan pasir berwarna merah muda. Biasa disebut dengan Pink Beach dan ternyata pantai yang satu ini benar-benar mempesona seakan ini adalah waktu makan siang dengan suasana terbaik yang pernah kami rasakan. Air pantai di pink beach sangat jernih dan biota laut disini sangat beraneka ragam, tak heran para penggemar diving biasanya mengadakan agenda menyelam pada malam hari untuk melihat biota laut yang sangat indah. Spot foto terbaik dapat dihasilkan setelah menaiki bukit di sisi kiri ataupun di sisi kanan pantai.

Menjelang malam terakhir perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Kalong, disini sebagai tempat kapal-kapal bermalam sebelum melanjutkan perjalanan. Saat pergantian malam adalah moment yang paling indah dengan melihat ribuan kalong membentuk barisan dan beterbangan dengan latar belakang langit berwarna kuning, kalong-kalong tersebut keluar dari tempat istirahatnya untuk mencari makan pada malam hari. Dan acara malam terakhir inilah waktu yang tepat untuk melihat gugusan bintang yang terlihat padat dilangit. Sering sekali terlihat bintang jatuh pada suatu kesempatan. Malam terakhir juga digunakan untuk mempersiapkan barang bawaan dan juga tenaga untuk destinasi puncaknya yaitu melihat hewan purba Komodo.

Pagi hari tiba di dermaga Pulau Komodo yang terlihat sangat kokoh. Masing-masing kelompok memulai perjalanan menuju tempat registrasi yang selanjutnya akan diambil alih oleh Ranger Komodo. Ranger Komodo sangat pandai berbahasa Inggris sehingga turis asing tidak kesulitan untuk mendapat informasi. Perjalananpun dimulai dan seekor anak komodo ditemukan diatas pohon. Komodo adalah hewan kanibal. Ia memakan sesama jenisnya sendiri. Taman Nasional Komodo pernah melakukan penelitian terhadap 4 ribu sampel kotoran komodo. Dari sampel tersebut peneliti menemukan bahwa enam persen makanan yang dikonsumsi komodo adalah komodo sendiri. Adapun makanan utama yang dikonsumsi hewan buas tersebut adalah rusa dan babi hutan.

Karena komodo hewan kanibal, maka komodo kecil tak akan bergabung dengan komodo-komodo dewasa. Sebab, mereka justru bisa dimangsa kawan-kawannya sendiri. Bahkan, induk komodo juga tak jarang memakan anak-anaknya sendiri.Ketika bayi komodo keluar dari telurnya maka disaat itu pula anak komodo langsung menyelamatkan diri dari predator dengan memanjat pohon dan hidup diatas pohon selama kurang lebih tiga sampai empat tahun. Di atas pohon, mereka memakan serangga dan burung. Kadang-kadang bayi komodo akan turun ke daratan untuk mencari minum.

Di alam bebas, komodo hidup berdampingan dengan hewan liar lain, salah satunya burung maleo yang berukuran sebesar ayam. Rupanya, komodo menggunakan sarang burung maleo yang telah ditinggalkan untuk bertelur dan menetaskan anak-anaknya. Sarang burung tersebut berada di bawah tanah. Biasanya, dalam satu tempat akan ada empat sampai lima lubang sarang. Komodo sendiri cukup pintar. Dari lima sarang hanya ada satu lubang yang diisi telur.Komodo bisa menghasilkan 15-30 telur. Telur-telur itu akan menetas dalam sembilan bulan. Namun, induk komodo hanya akan mengerami telur-telurnya sampai umur tiga bulan. Dari 30 telur tersebut biasanya hanya 50 persen yang menetas. Dari telur yang menetas itu, biasanya hanya separuh anak komodo saja yang dapat bertahan hidup sampai dewasa.

Mendengar informasi seperti itu kita sebagai manusia seharusnya menambah rasa syukur karena ketika kita lahir ada sosok yang selalu menjaga dan merawat kita sampai kita tumbuh dewasa, tak lain sook tersebut ada sosok Ibu dan juga Bapak.

Perjalanan Sailing Komodo akan sangat berkesan dan bermanfaat, melelahkan namun membuat rindu akan suasana alam. Selesai aktifitas trekking Komodo maka perjalananpun dilanjutkan ke Pulau Kelor untuk makan siang dan sekaligus Pulau Terakhir sebelum mencapai akhir destinasi Labuan Bajo. Labuan Bajo memiliki banyak fasilitas penginapan untuk dipilih. Mulai dengan harga 100.000 /malam sampai 750.000/malam. Pada tujuan akhir sediakan waktu untuk berbelanja berbagai benda khas NTT dimalam hari. Kain tenun adalah pilihan yang tepat untuk dimiliki seorang traveler, selain sebagai aksesoris menarik dapat juga diartikan sebagai traveler yang cinta akan tanah air Indonesia.