Way Kambas

Gajah merupakan hewan cerdas yang memang sudah ada sejak dahulu kala. Kecerdasan gajah sangatlah terbilang unik mengingat gajah bisa dilatih dengan baik dan dapat hidup damai berdampingan dengan manusia. Di beberapa negara, gajah merupakan hewan yang dianggap sakral dan dirawat dengan baik karena diyakini bisa membawa keberuntungan bagi manusia pada umumnya.

Kehidupan gajah di Indonesia terbilang cukup memprihatinkan mengingat zaman sekarang telah banyaknya pembangunan yang berujung pada kerusakan ekosistem alam. Akibat dari kerusakan oleh tangan manusia tersebut maka populasi gajah sangat menurun drastis di angka kematian, contohnya saja di daerah Riau, menurut data yang dikeluarkan oleh WWF bahwa populasi gajah dari tahun 2004-2013 terbilang cukup memprihatinkan bahwa tingkat kematian gajah sebesar 59% diakibatkan karena diracuni. Lalu bagaimana hal itu bisa terjadi tanpa pengawasan dan kepedulian dari pihak berwajib ataupun masyarakat yang memang benar-benar peduli akan habitat gajah?

Di Indonesia sejak tahun 1985 telah didirikan pusat pelatihan gajah yang bertujuan untuk melindungi keberadaan habitat dan menciptakan lingkungan yang sehat bagi keberlangsungan hidup gajah. Taman Nasional Way Kambas berlokasi di sisi timur provinsi Lampung, sekitar 110 Km dari kota Bandar Lampung. Tempat ini merupakan salah satu cagar alam tertua di Indonesia yang menempati lahan seluas 1.300 Km2 yang berupa daratan rendah di sekitar sungai Way Kambas. Taman Nasional Way Kambas memiliki 50 jenis mamalia diantaranya badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), anjing hutan (Cuon alpinus sumatrensis), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus); 406 jenis burung diantaranya bebek hutan (Cairina scutulata), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus stormi), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), sempidan biru (Lophura ignita), kuau (Argusianus argus argus), pecuk ular (Anhinga melanogaster); berbagai jenis reptilia, amfibia, ikan, dan insekta.

Kini Kaw Kambas adalah salah satu Taman Nasional yang sering diramaikan oleh wisatawan yang ingin melihat gajah secara liar dan tidak dikurung pada suatu bangunan. Gajah-gajah liar yang dilatih di Pusat Latihan Gajah (9 km dari pintu gerbang Plang Ijo) dapat dijadikan sebagai gajah tunggang, atraksi, angkutan kayu dan bajak sawah. Pada pusat latihan gajah tersebut, dapat disaksikan pelatih mendidik dan melatih gajah liar, menyaksikan atraksi gajah main bola, menari, berjabat tangan, hormat, mengalungkan bunga, tarik tambang, berenang dan masih banyak atraksi lainnya. Musim kujungan terbaiknya adalah pada bulan Juli sampai dengan September di setiap tahunnya.

Pengunjung Way Kambas dapat berfoto dan juga bermain bersama gajah secara langsung dengan penjagaan dan pengasawan dari pawang gajah. Pada malam hari, pengunjung dapat juga untuk mengisi kegiatan berkeliling kawasan hutan dengan gajah yang didampingi oleh pawang dengan membawa alat penerang untuk pencahayaan (safari night). Setiap gajah di Way Kambas memiliki nama yang biasanya diberikan oleh pejabat di Indonesia seperti Walikota, Gubernur, atau bahkan Presiden sekalipun. Nama yang sudah diberikan akan digunakan untuk memanggil gajah yang baru lahir dan selanjutnya gajah tersebut akan diserahkan oleh salah satu pawang sebagai penanggung jawab sekaligus pemelihara.